Tuesday, August 21, 2018

# curhat # gegalauan

#MarriageLife Part II; Uring-uringan Bukan Solusi, Selama Kamu Masih Punya Hati


Nyatanya, mereka yang pernikahannya langgeng sampai puluhan tahun pun nggak henti-hentinya belajar buat ngatur emosi, meredam ego sampai rela mengalahkan keinginan demi terpenuhinya kebutuhan. Lalu, apa kabar kita yang setahun (kurang) menikah? Masih mau sok-sokan?
Di tulisan saya kali ini, saya ingin memposisikan diri sebagai perempuan yang sudah cukup lama menjalin hubungan dengan pria yang super cuek, serius dan punya cara berpikir visioner alias jauh ke depan. So, maklumin ya kalau agak-agak serius dikit :)

Yup, jadi kemarin ini saya iseng bikin polling tentang tema apa yang harus saya tulis di blog. Hasilnya, kebanyakan dari netizen memilih melanjutkan tema #MarriageLife di banding dunia per-skincare-an.

Perlu diketahui, ngatur emosi pas udah nikah sama pacaran itu jauh beda. Jauh banget malahan!

Dulu, saya dan suami adalah tipe pasangan alay yang masih suka ninggalin satu sama lain saat marahan. Niatannya sih biar dikejar terus minta maaf gitu. Jijik memang kalau ingat, tapi masa' iya pas udah nikah mau gini juga? Yang ada percuma, karena pas mau bobok juga ketemu lagi kan?

Saya bisa bilang kalau cara ngatur emosi pas pacaran dan di pernikahan itu jauh beda karena faktor intensitas pertemuan. Let's say, kita hanya ketemu pacar beberapa jam dalam sehari, bisa pagi, siang atau malam doang. Tapi kalau udah nikah, yakali bakal jarang-jarang, kan nggak? Kecuali buat yang LDR, ya... Intensitas ketemu pas udah nikah jelas lebih banyak. Mau marahan lama juga kayaknya susah, ya.

Marahannya orang pacaran dan yang udah nikah pun pastinya mengalami 'kenaikan kelas'. Yang tadinya ngambek kalau chat 'udah maem belom?'-nya lama dibalas, sekarang jadi agak elegan karena duit bulanan belum juga turun buat beli beras. Gitu aja terus, karena memang ini fase alaminya.

Lagipula, mengatur emosi pas pacaran sama di status pernikahan itu bisa mendewasakan pelakunya secara otomatis. Jadi ya, nggak ada kata terlambat buat terus belajar :)

"Menikah dengan suami atau istrimu kan pilihan, jadi kenapa hobi banget marahan?" Kalimat menohok dari seorang tetangga ketika sedang berbincang soal ubo rampe pernikahan

Rutinitas menyapu teras kontrakan kadang juga berbuah manis, selain buat olahraga dan menghirup udara pagi. Ya, kemarin ini saya baru aja ngobrol sama tetangga yang kebetulan nggak deket-deket banget tapi bisa lah ya jadi teman ngobrol.
Eh, kapan lahiran? Udah makin gede, lho...
Doakan September ini, Bu... Hehe...
Oh, semoga lancar ya semuanya...
Amin, amin makasih. Bapak udah berangkat kerja?
Barusan nih berangkat, tapi lupa sarapan padahal udah tak siapin dari subuh...
Wah, sayang dong, ya...
Lhaiya, tapi yaudah nggak apa-apa... Lagi males marahan. Lhawong saya yang milih dia, males aja kalau emosian terus. Hehe...
Obrolan singkat nan sederhana ini mungkin nggak berbekas di hati semua orang, tapi beda sama saya. Saya menganggap pagi itu adalah awal hari yang baik buat introspeksi diri tentang pentingnya kontrol emosi ke pasangan. Terlebih buat yang baru banget nikah, ego sama gengsi memang lagi tinggi-tingginya. Nggak heran, ada lho yang rela menduda atau menjada di bulan pertama pernikahan :)

Nggak perlu ah tahu semua urusan suami atau istri di luar rumah. Lhaiya, ini kan kaitannya sama komitmen! 

Modal percaya doang memang nggak selalu mulus. Buktinya, banyak kok yang udah mati-matian percaya sama pasangannya, akhirnya 'sakit' karena diselingkuhin juga. Ya gimana, manusia kan memang tempatnya lupa? Eits, ini bukan alibi lho, bukan.

Tapi, kalau kita mau renungkan lagi, menjaga komitmen pernikahan itu jauh lebih sulit di banding nge-hack password HP pasangan kita. Ini hubungannya sama hati, di mana bisa saja porak-poranda walau hanya tersakiti sekali. Bener nggak?

Jadi kalau buat saya, ngecek rutin WA suami atau history call-nya itu buang-buang waktu. Ya kadang sesekali masih sih begitu, cuma nggak lebay yang tiap malam mau tidur gitu. Sewajarnya saja, karena tadi, modal saya adalah menjaga komitmen dan berusaha percaya.

Lagian, kita ini masih punya banyak waktu untuk meyakinkan diri lewat ngobrol berdua sama pasangan kita kan? Misalnya nih, nanya dia ngapain aja hari ini pas lagi makan berdua biar momennya pas. Jangan deh sekali-kali nanyain hal-hal begini pas pasangan kita baru aja nyopot sepatu sepulang kerja. Bisa-bisa, bakal ada perang dunia ke 3 :)

Berpikir lewat dua sudut pandang, bukan cuma ingin di mengerti karena alasan "aku kan cewek, aku kan lemah!"

Saya nggak memungkiri sih kalau zaman sekarang banyak banget hal yang bisa dijadikan alasan, supaya terucap kata 'maaf' seketika setelah terjadi pertengkaran. Walaupun saya sendiri sadar, hal semacam ini nggak sepenuhnya benar karena kita jadi susah buat belajar.

Jadi, poin yang satu ini saya dapatkan dari suami pas lagi emosi-emosian minggu lalu. Dia bilang, kalau di balik tangisnya seorang istri jelas ada hati suami yang lebih teriris. Meski mungkin dia nggak kayak aktor drama Korea yang ngelus rambut ceweknya pas nangis, percayalah kalau dia masih punya hati buat ngerasain betapa sakitnya hatimu saat itu.
Kalau kamu terus-terusan berpikir pakai sudut pandangmu, kapan kamu bisa menghargai orang lain termasuk suamimu? Inget deh, bentar lagi bakal jadi ibu lho kamu ini...
Kamu perlu paham, kalau memposisikan diri di posisi orang lain itu nggak gampang, tapi masih bisa diusahakan. Jangan pakai alibi  macem-macem yang malah bikin aku bingung. Kamu masih punya hati buat ngerasain kan gimana sakitnya perasaan orang lain? Yaudah pakai patokan itu aja, jangan doyan nangis atau uring-uringan doang!
Dua pernyataan yang masih suka bikin saya terharu, sampai sekarang. Hmmm, kadang cara berpikir laki-laki memang lebih logis ya di banding perempuan? Jadi saya nggak heran, kalau kata-kata suami tadi bisa jadi bahan introspeksi.

Sadari dan buktikan nanti, bahwa masih ada banyak hal menarik untuk dibahas di banding emosian atau uring-uringan

Kayak yang saya bahas di artikel soal pillow talk minggu lalu, ternyata menikah dan menghabiskan waktu ngobrol berdua itu asyiknya melebihi belanja diskonan! Believe it or not, hal ini saya rasakan selama 8 bulan berstatus sebagai istri.

Nggak gampang sih begitu aja ngatur emosi, apalagi pas lagi marah-marahnya sama suami karena dia pulang telat atau capek beresin rumah sendiri. Nggak gampang, nggak gampang sama sekali!
Tapi, saya berusaha menjadi perempuan waras dengan mengingat hari di mana Fajar dengan tegas menghalalkan saya di depan puluhan orang, Desember 2017 lalu. Saya yakin bahwa dia memilih saya bukan untuk permainan, meski hanya Tuhan yang tahu kapan kami akan terpisahkan.
Saya seketika mellow dan jadi sadar, kalau marah terlalu lama hanya akan menimbulkan dendam, padahal jelas ini akan membawa dampak buruk buat pernikahan kami ke depannya. Huhuhuhuhu, terharu ~

So, saya di sini nggak menggurui siapapun karena di dunia pernikahan saya termasuk newbie. Tapi, coba deh praktikkan dan rasakan gimana sensasinya! Uh, enak dan nikmat banget ngejalaninnya!!!
Love in marriage is more than just a feeling or an emotion; it is a choice! -Myles Munroe-
Thank you buat yang udah baca sampai selesai, semoga bisa jadi bahan introspeksi, khususnya kalau lagi nahan amarah atau emosi :)

1 comment:

  1. BROKER BERBASIS DI INDONESIA
    TRADING ONLINE TERPERCAYA
    PILIHAN TRADER #1
    - Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
    - Sistem Edukasi Professional
    - Trading di peralatan apa pun
    - Ada banyak alat analisis
    - Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
    - Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT
    Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
    Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
    Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
    Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......

    Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!

    ReplyDelete