Tuesday, July 31, 2018

# curhat # gegalauan

Mengurangi Negosiasi dengan Tuhan; Sumber Keikhlasan di Masa Kehamilan


Pada kangen nggak setelah ribuan purnama saya nggak nulis di blog? Huhu, sedih, ya...

Seperti biasa, saya belakangan hari lagi moody-an banget. Bukan karena berhasil unfollow @lambe_turah, tapi memang lagi pengen rehat sejenak dari blog dan sejenisnya. Males banget ya anaknya? Hehe. Tapi eh tapi, bukan berarti saya ogah nulis lagi, ya!



Eniwei, alhamdulilah saya dan suami sudah diberikan amanah oleh Allah dengan kehadiran buntelan cinta di perut. Alhamdulilah, alhamdulilah dan alhamdulilah. Meski kehadirannya ini sama sekali nggak direncanakan, kami berdua tetap happy, lho!. Kami yang semula pengen mesra-mesraan dulu setelah menikah pun jadi agak berubah pikiran; yakali udah hamil masih mau naik gunung, motoran ke luar kota atau nyelem di Umbul Ponggok seharian!

...

Diamanahi seorang anak mungkin bahasa yang terlalu 'berat' buat saya dan suami. Ya, kami berdua tergolong pasangan yang masih suka marah-marah ketika ada tukang becak nyeberang sembarangan padahal memang nggak ada lampu sein. Atau, kami kompak ngedumel saat antrian makanan diserobot padahal kami nggak pernah tahu, mungkin saja yang nyerobot kelaparan karena belum makan 3 hari.

Bukan, bukannya kami menolak rezeki yang luar biasa ini. Kadang, di sela obrolan malam kami, kami hanya saling bertanya sambil bertatap, "akankah kami mampu menjadi orangtua yang sabar dan mau mencurahkan segalanya untuk anak kami?", "akankah kami paham, bahwa perkembangan zaman telah merenggut banyak esensi kebaikan, tanpa pandang bulu dari segi usia?" atau, "akankah kami mampu membendung gengsi dan air mata, jika suatu saat beras di dapur habis sedangkan anak kami sudah menangis kelaparan".

Masih banyak lagi hal-hal tersirat yang sebenarnya kami berdua ingin saling sampaikan. Tapi, kami sadar bahwa mengeluh takkan menghasilkan apa-apa. Yang ada, saya yang cengeng ini hanya akan kecewa karena tangisan pun bukan jalan untuk mendapatkan perhatian dari suami. Jadi ya sudah, kami terus berusaha ikhlas.

...



Lalu, saya dan suami putuskan untuk pelan-pelan mengurangi negosiasi dengan Tuhan. Bukan berarti kami pasrah, kami hanya ingin menikmati masa menjadi calon orangtua ini dengan penuh kegembiraan. Caranya mungkin tergolong bodoh, seperti terus memperdebatkan panggilan Abi-Umi atau Papa-Mama yang cocok ketika buntelan cinta ini lahir.

Kami pun segera mencari tahu, kebaikan apalagi yang bisa didapat ketika sudah pasrah dan berhenti menuntut kuasa Tuhan. Jawabannya adalah, kehamilan ini menjadi lebih berkah dan menyenangkan. Mual, muntah, punggung pegal sampai kaki kram tiap malam seperti bukan hal berarti, di banding kehadiran buah hati yang sehat dan sempurna beberapa minggu lagi. Sungguh, hal ini benar-benar terjadi.

...



Pernikahan dan kehamilan memang dua fase yang lekat dengan keikhlasan dan kemantapan hati. "Jika sekali saja terbesit keraguan dalam hatimu, maka hancurlah kamu!", sebuah kutipan menohok yang saya lupa dapat dari mana. Saya mengamini hal ini, insyaallah sampai entah kapan nanti.

Betul-betul mengurangi keluhan demi keluhan adalah kunci utama suksesnya hubungan rumah tangga, di masa kehamilan khususnya. Pernah dengar kan kalau kita harus memberikan afirmasi positif ke diri kita tiap saat? Ya ini praktiknya, dengan nggak ngeluh apalagi menyalahkan keadaan. Nikmatin, iya nikmatin aja.

...



Saya nggak tahu sih, paragraf demi paragraf di atas tadi bisa menularkan hal positif juga ke orang lain atau malah sebaliknya. Tapi yang jelas, saya benar-benar sudah percaya bahwa semuanya ini tentang IKHLAS dan PASRAH. Terlebih kalau hidup jauh dari orangtua, yang apa-apa harus berusaha sendiri walaupun sebenarnya cukup berat juga. Ehe. Beneran sih kalau ada yang bilang, don't worry just be happy :)

Semoga teman-teman khususnya yang lagi hamil juga bisa sabar dan ikhlas menjalani masa keemasan menjadi seorang wanita ini, ya. Kita sama kok, tambah gendut dan nggak bisa nahan nafsu buat ngemil tiap jam :) Yang penting mah satu, ibu sama anaknya sehat, rekening bapaknya juga :) 

...

Sampai jumpa di diary kehamilan saya selanjutnya, ya! Semoga tetap istiqomah buat ngisi tulisan di blog!

Pict source:
1. unsplash.com
2. giphy.com

8 comments:

  1. Sehat-sehat terus ya buntelan cintanya Silvia!

    ReplyDelete
  2. Sehat sehat tlepong junior! Wkwkwkwk

    ReplyDelete
  3. Waaahh selamat yaaa..
    Semoga sehat dan lancar selalu hingga tiba waktunya bertemu buntelan cinta yang manis, aamiin ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiiih Mbak, amin dan salam kenal :) GBU too :)

      Delete
  4. Alhamdulillah, selamat Mba sebentar lagi mau ketemu buntelan cinta ya! Saya selalu seneng baca blog tentang bumil karena kerasa senasib, hehehe...

    Saya juga ngerasa kunci kehamilan bahagia itu keikhlasan. Mau apa yang dirasa ya terima aja, ikhlas aja

    Semoga lahirannya lancar yah, Mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiiin yarabb :)

      Iya, kalau nemuin yang senasib emang ngerasa tenang ya :)

      Salam kenal, Mbak :)

      Delete