Tuesday, March 6, 2018

# MENIKAH # relationship

#MarriageLife Part I "He Is My Favorite Enemy"



Kenal dan memahami Mas Fajar itu nggak gampang. Dia bukan tipe pria romantis. Jangankan diberi voucher belanja, chat beberapa jam yang dia balas saja udah bisa bikin saya bahagia :) But Fajar is Fajar, he is my favorite enemy, ever...

Buat saya, mengenal pria yang nantinya bisa benar-benar klik memang butuh waktu cukup lama. Terlebih kalau kita berasal dari latar belakang dan kesenangan terhadap sesuatu yang jauh berbeda. Ya, ini yang saya alami sampai sekarang bersama suami tergila, Fajar Agung Setiawan.

Kurang lebih 3 bulan menikah adalah hal paling menantang di hidup saya. Saya yang gampang banget mengalami mood swing harus 12 jam lebih bersama orang super "straight" dan nggak suka basa-basi. Rasanya gimana? Ya nggak gimana-gimana sebenarnya, tapi saya jadi banyak belajar kalau menyikapi hidup nggak bisa dengan uring-uringan apalagi nangis bombay. Percayalah, saya ini CENGENG BANGET!


Anyway, why i called him as my favorite enemy?

Bisa dibilang, Fajar ini pria paling masuk akal yang pernah saya kenal. Semua yang dia bilang ke saya rasanya seperti mantra, serius, saya nggak bisa nolak atau berkata "nggak"! Atau jangan-jangan dia ini jelmaan Romy Raffael yang bisa hipnotis? Bukan deh kayaknya. Cuma, saya rasa Fajar ini sosok pria yang pintar bergelut dengan logika, sedangkan saya baperan luar biasa.

Belum lagi, dia adalah sosok suami yang penyabar. Ini bukan pujian, karena saya tahu usia pernikahan saya masih sebiji jagung banget! Karena faktanya, saya yang sekarang lagi picky banget soal makanan hampir setiap hari seleranya berubah-ubah. Doi sih apa-apa suka, jadi tenang-tenang aja. Tapi Ya Allah, nggak nyangka kalau dia akan memahami sampai sebegitunya.


"Yowes nggak apa-apa nek nggak doyan. Besok kalau pas berangkat ngantor, beli makanan dulu di luar. Eh, beli Yamie Panda tiap hari juga nggak apa-apa. Pokoke ojo ngasi lemes. Dieling-eling tenan!"

Tapi walaupun suka sweet gitu, suami saya tetap sosok yang paling menyebalkan. Dia tetap pria yang selalu lupa naruh handuk di tempat semestinya. Pun kalau pulang kerja dan kecapekan, mandi cuma jadi mitos belaka. Ya, saya rasa semua perempuan akan sebel sih sama rutinitas yang begini. Ehe.

Belum lagi, dia hobi banget nonton YouTube pakai keyword "the funniest animal" dan itu hampir tiap malam berlanjut dengan ngekek-ngekek sendiri nggak ngajakin istrinya. Lucunya, kalau kuota internet habis, dia malah bilang, "pasti kamu main Instagram pakai HP-ku, ya?". OMG, aku kudu pie, Mas?


Banyak teman Mas Fajar yang bilang kalau dia beruntung punya saya. Tapi jujur, faktanya justru sebaliknya.

Sebelum menikah, kami adalah sepasang alay yang ke mana-mana selalu bareng. Kami berdua memang tipe yang nggak bisa LDR'an walaupun kalau bareng durasi berantemnya lebih banyak. Dulu, saya yang lebih banyak diajak ke kumpul-kumpul bareng teman-temannya Mas Fajar, jadi nggak heran kalau mereka sering bilang, "Fajar emang raiso nek ora karo Silvi. Koe ojo ngasi bosen yo, Vi!".

Berangkat dari kebiasaan itu, hampir semua teman Mas Fajar bilang kalau dia beruntung punya saya, walaupun entah apa alasannya. Dari situ saya bangga, pada awalnya. Tapi lama-lama, JUSTRU SAYA yang paling beruntung bisa hidup berdua dengan pria super sabar, periang dan nggak gampang ngeluh kayak Mas Fajar. Sekali lagi ini bukan pujian, ya. Ehe.


Untung dia bukan orang yang suka baca, jadi nggak bakal ke-GR'an pas lihat tulisan ini.

Once again, semua guyonan receh dia telah berhasil membuat saya selalu pulang kerja lebih awal. Bunyi kentutnya yang nggak kenceng tapi nggak kecil juga sukses bikin saya kangen setiap waktu. Plus, telur ceplok gosong bikinan dia yang bikin saya mau nggak mau harus bangun pagi-pagi. 

Sekian dulu cerita nggak penting tentang #MarriageLife versi saya, ya. Saya sih pengennya kayak tulisan berseri gitu, biar lebih gampang dan nggak capek bacanya. Saya harap kalian nggak eneg ya pas baca ini. Plis, saya tunggu masukannya! :)

No comments:

Post a Comment