Friday, January 20, 2017

# cinta # couple

Sekilas Tentang Mencari Nafkah di Jogja. Banyak Senangnya, Tapi Nggak Sedikit Juga Sedihnya :)

Mana nih yang baru awal-awal bekerja dan masih sangat exited menerima email berisi slip gaji tiap bulannya???

Jogja, kota wisata yang lekat dengan sejuta pesona, namun tidak bagi sebagian penghuninya. Pada kenyataannya, masih banyak orang Jogja, khususnya mereka yang sudah bekerja merasakan hal-hal kurang mengenakkan buat dirinya sendiri. Bukan hanya dari segi gaji, tapi juga pengalaman-pengalaman lain yang sering kurang pas di hati.


Hey, nggak seserem itu juga kali!

Kalau boleh bilang, Jogja memang bukan tempat yang (begitu) pas untuk mencari kerja yang benar-benar kerja. Lebih tepatnya lagi, Jogja itu tempat yang ideal buat piknik, jalan-jalan lalu membangun keluarga. Wis, rasah protes!

Saya dan beberapa teman dekat mengalami kenyataan ini setelah baru lulus kuliah, lalu benar-benar terpuruk ketika menyadari bahwa menjadi sales atau marketing itu sudah mentok untuk lulusan di luar keguruan.

Bukannya nggak mencari ke mana-mana, justru kami mondar-mandir ke job fair sampai mendatangi satu-satu kantor yang diincar. Dan sampai sekarang, saya nggak tahu kenapa posisi sales dan marketing itu yang paling buaanyak banget dicari. Anehnya, nggak habis-habis walau sudah banyak yang keluar-masuk.

Di luar semua itu, kalau kita semua mau, sebenarnya di Jogja masih banyak industri-industri kreatif yang mencari anak-anak muda untuk masuk ke dalamnya. At least, walau gaji sedikit, beban kerjanya nggak begitu memberatkan dan lingkungannya juga cukup fun. 

Satu lagi, ketika kita mentok di satu pekerjaan beserta perusahannya lalu gaji nggak seberapa, memutar otak adalah satu-satunya jalan supaya tetap bertahan dengan uang bulanan di Jogja. 

Ya, nyambi jadi apapun adalah solusinya. Freelance admin atau penulis, waitress sampai kasir mungkin bisa jadi alternatif kedua setelah pekerjaan tetap yang gajinya nggak seberapa. Gampangnya, gaji per-bulan hanya cukup buat beli bensin dan makan. Nelangsa sekaligus bangga sih kalau bisa melakukan keduanya.

Jogja sangat berbeda dengan kota besar lainnya seperti Jakarta. Kemacetan setiap pagi yang belum bergitu parah juga menjadi alasan mengapa saya masih bertahan di sini, meski kadang ngos-ngosan kalau ngomongin soal uang bulanan.

Menjelang weekend juga bukan PR yang susah kalau mau nyari tempat liburan, karena Jogja masih berbaik hati dengan pantai, gunung sampai wisata tradisionalnya. Ya, tingkat stres di Jogja belum sebesar Jakarta, Bandung atau kota-kota besar lainnya. Fiuuuh, masih aman!

Jogja masih sangat bersahabat sampai sekarang, kalau kita menyikapinya dengan cerdik dan tenang. Menyiasati hidup di Jogja pun sebenarnya nggak sesulit yang dibayangkan, walaupun kita semua agak terkendala pada jumlah gaji tiap bulan. 

No comments:

Post a Comment