Monday, January 16, 2017

# cinta # couple

Mendahului Matahari; Sebuah Cerita Pendek 'Ngaco' yang Tetap Layak Dijadikan Refleksi Diri


'Aku putar lagu ini, ya. Kamu masih suka 'kan?' 
Katanya, lengkap dengan tutur kata lembut yang memecah suasana. 
'Ya, boleh. Volumenya dibuat lirih saja...'

Dendangan demi dendangan band beraliran slow-pop itu membuat mata kami yang semula ngantuk, menjadi perlahan-lahan segar.

Masih jelas pula dalam ingatan, bahwa lagu ini ada di daftar teratas dari puing-puing kenangan.


'Ra, ingat nggak malam tahun baru waktu itu? Pertama kalinya aku berani memelukmu dari belakang...'

Aku kaget setengah mati. Apa maksud pria gagah yang pernah aku miliki ini? Apa dia ingin hubungan ini kembali? Ah, pikiranku jadi melayang ke mana-mana.


'Haha. Aku ingat, dong. Aku kikuk sekali waktu itu. Maaf ya, jadi gagal romantis' 
'Justru itu, Ra. Kalau ingat, aku jadi malu dan geli sendiri... I'm sorry, Ra'

Aku hanya bisa terpaku. Canggung! Ya, jelas. 5 tahun perpisahan ini membuat karakterku berubah seketika. Tapi anehnya, dia masih sama. Masih memperlakukanku seperti gadis pujaannya.


'Perlu aku repeat lagunya? Biasanya dua sampai tiga kali kamu baru puas mendengarnya?'
'Eh cukup, Do. Kayaknya kita harus pulang deh...' 
'Secepat ini?' 
'Iya, nggak kerasa sudah jam setengah 3 pagi nih...'

Aneh saja rasanya. Ketika kami berdua yang sudah bukan siapa-siapa masih santai berduaan sampai menjelang Subuh di balkon sebuah cafe 24 jam. 

Meski awalnya, pertemuan sepasang mantan ini karena undangan ulang tahun teman.


'Nanti aja ya, Ra. Tanggung. Itu, Ringgo cs masih santai di pojokan' 
'Hmmm... Memang mau nganterin aku pulang?'

Agak menyesal aku melontarkan kalimat tadi. Sial, batinku. Senyum khas nan simetris dari bibir Edo begitu manis! Dalam sekejap, aku palingkan muka. Ya Tuhan, aku malu setengah mati! Aku ingat masa-masa indah itu lagi!


'Ya sudah, aku ambilkan minum dulu, ya. Masih suka orange juice 'kan?' Kata Edo sambil menepuk pundakku, seolah tahu kalau aku sedang dirundung malu.
'Iya. Eh tapi...'
'I get it. Tanpa gula 'kan?'

Sambil aku peluk rapat-rapat kedua kakiku di depan dada karena saking dinginnya, aku kembali disadarkan oleh beberapa kepingan kenangan bersama Edo 5 tahun lalu.

Ketika sosoknya mampu membuat segala resah menjadi suka cita. Ketika kehadirannya mampu menjadi pelipur lara, kepada hati yang hampir setiap saat bisa terluka.

Jujur saja, tidak mudah melupakan Edo, meski kita berdua memang sudah tidak bisa bersatu.


'Hey, sorry lama...'
'Oh hey, iya nggak apa-apa'
'Silahkan....'

Persis. Caranya menyuguhkan jus jeruk tanpa gula kesukaanku seperti setahun pertama saat kita jadian. Tangannya yang halus begitu terampil mengelap pinggiran gelas yang dibasahi sisa-sisa bulir jeruk.


'Do... Sorry kalau aku lancang. Kamu sudah punya pacar sekarang?' 
'Haha. Harus aku jawab nih?' 
'Eng... Aku yang ngelantur. Sorry again, Do' 
'Sudah. Aku sudah bertunangan, Ra...'

Jantungku berdegup kencang seketika. Jus jeruk tanpa gula yang biasanya menyegarkan, berubah pula menjadi absurd keasaman. Edo sudah punya tunangan dan aku mau berduaan sampai selarut ini?!!

Seperti gadis-gadis pada umumnya, aku berusaha terlihat cool dan biasa saja.


'Wah, congratulations, Do. Finally, you made it!' 
'Makasih, Ra. Ini undangan pernikahanku dua 
minggu lagi. Kamu ada di salah satu daftar special guest. Wajib datang!'

Apa lagi ini? Harus berapa kali jus jeruk asam sialan ini harus aku rutuki? Aku bingung dan tingkahku semakin tidak karuan. 

Apa aku harus marah? Salahkah kalau aku kira ini sebuah kencan selepas pertemuan yang tidak di sengaja?!!


'Sure. Selamat Do sekali lagi. Gadismu ini beruntung. But, kayaknya aku harus pulang nih...' 
'Ra, are you okay? Kok jus jeruknya nggak diminum?' 
'No, no. Aku baik-baik saja. Aku baru ingat, ada deadline tulisan buat besok jam 6. So, aku harus pulang...'

Sambil meraih jaket kulitnya yang wangi, Edo bergegas ingin segera mengantarku pulang. Ya, ini karena bodohnya aku yang keceplosan!


'Eng... Aku pulang sendiri saja. Thanks, Do. Aku buru-buru...' 
'Tapi, Ra...'

Tanpa basa-basi lagi, jus jeruk tadi aku letakkan di meja dengan hentakan yang cukup keras. Aku rasa, hampir separuhnya jadi tumpah hingga ke lantai.

Dengan high heels 7 centi serta rok mini yang menempel ditubuhku malam itu, aku langsung bergegas pergi. Tidak seperti di FTV, Edo pun tidak memanggil atau mengejarku. 

Sial (lagi), batinku.

Banyaknya anak tangga untuk turun membuatku terpaksa melepas sepatu oleh-oleh dari Mama ini. Aku ingin berlari dan berteriak sekencang-kencangnya. Aku marah karena kebodohanku sendiri!


Bagaimana bisa seorang gadis dilahirkan dengan perasaan yang mudah terbawa suasana? Bagaimana bisa, perasaan yang sudah 5 tahun sirna, kini aku berharap untuk kembali memilikinya? Bodoh. Sial!

Tepat pukul 04.00 pagi, aku keluar dari cafe 24 jam itu. Edo masih melihatku dari atas balkon. Namun, aku tetap berjalan dengan penuh kejengkelan.


Dan tepat di persimpangan lampu merah aku berhenti lalu merasa lega, karena meski terluka untuk kedua kalinya, hati ini telah dibukakan sebelum diterbitkannya matahari oleh semesta.

source: pexels.com


Sebuah cerita pendek yang dibuat kurang dari satu jam. Pelipur lara, bagi mereka yang hatinya sering ditimpa kesakitan.

No comments:

Post a Comment