Tuesday, November 22, 2016

# cinta # couple

Konsep Istri Idaman; Kudu Pinter Masak. Sebenarnya, Ini Kewajiban atau Pemerasan?

Liat deh si Anggi. Udah cantik, lucu, pinter masak lagi. Idaman banget deh!
Kata 'pinter masak lagi' ini seolah mewakili perasaan gadis-gadis di luar sana yang sudah sekian lama menjadi sahabat dapur, wajan dan pisau, lalu bangga, kalau predikat pintar memasak itu melekat padanya.

Kultur semacam ini juga sudah terlanjur melekat pada diri sebagian besar orang, khususnya mereka yang fanatik terhadap istilah, 'percuma cantik kalau sama api kompor aja takut!'.

Nah, gimana dong dengan mereka (gadis-gadis) yang nggak pandai berkutat dengan bumbu dapur berikut ubo rampenya yang lain? Apa ini berarti mereka nggak layak disebut sebagai gadis sempurna, atau istri idaman yang patut untuk dicinta? Wiih, syulit juga, ya.

But, menurut opini saya sebagai gadis desa yang sudah cukup lama hidup di kota, (halah curhat terus!). Konsep atau layak atau tidaknya sesorang gadis bisa disebut sebagai istri idaman itu ada beberapa indikator. I mean, nggak cuma kelihaiannya di dapur saja yang bisa dinilai, tapi aspek lain juga perlu. Oke, begini penjelasannya...

Belum bisa masak itu bukan berarti nggak bisa masak. Selama mau belajar, why not?

Bisa atau nggak-nya seorang gadis dalam hal memasak, secara kodrati dia pasti bisa membedakan; mana wajan, mana panci. So, masih ada harapan 'kan?
Kewajiban memasak itu (agak berbeda) dengan kewajiban melayani; melayani suami, melayani keluarga 
Sayang, Ibu sibuk sekali pagi ini. Ada meeting sekaligus kondangan di tempat teman Ibu. Sarapan sama makan siangnya beli di luar dulu, ya. 
Kecuali, kamu (yang kelak menjadi Ibu) menyempatkan diri memasak subuh-subuh dulu sebelum berkutat dengan kesibukan di pagi sampai siang harinya.

Walau begitu, ada beberapa pria yang menganggap cewek pandai memasak itu adalah calon ibu serta istri yang baik
Gadis yang mau kotor-kotoran di dapur itu cerminan kalau dia layak dijadikan istri dan pendamping hidup sehidup semati. --Rian (26), Calon Bapak 
Nggak mengharuskan banget sih. Tapi alangkah lebih baiknya kalau seorang gadis itu bisa masak. Ada kesan seksi tersendiri ketika dia memegang spatula dan mengenakan celemeknya. Huh! --Anang (27), Gym-Freak
Ketika Saya bertanya pada Ibu, Inilah jawaban beliau perihal masak-memasak tadi...

Memasak itu wajib. Tapi bisa atau nggak-nya, itu tergantung usaha dari masing-masing individu. Ada mereka yang 'cuek' saja dengan kemampuan memasak mie instannya, atau mereka yang jutsru bangga walau hanya bisa menyajikan sepiring tahu goreng untuk keluarga kecilnya.
'Simpelnya, seorang Ibu atau Istri disarankan untuk bisa memasak itu tujuannya cuma satu; biar suaminya nggak doyan jajan di luar. Sayang 'kan, duitnya bisa dipakai buat arisan', kata Ibu di telepon, sambil jemurin pakaian.
Ya, bagaimana pun alasannya, 'ora ketang mung iso masak tahu goreng karo sambel terasi ki wes lumayan' (walaupun cuma bisa masak tahu goreng sama sambal terasi saja sudah lumayan).

Jadi, ini kewajiban atau pemerasan?

Kalau kamu mau menggarisbawahi, sebenarnya seorang gadis itu memang diwajibkan buat bisa memasak. Apapun bentuknya, memasak itu sama halnya dengan kesediaan melayani dan menyayangi keluarga.


Sesimpel telapak tangan yang berbau bawang, seorang suami akan lebih menghargai daripada wangi parfum tapi dipergunakan untuk hal-hal negatif. Seorang suami juga (mungkin) akan lebih menyayangi istrinya yang mau memasakkan semangkuk mie instan, daripada dia yang pandai bersolek tapi kurang perhatian. (kok kayak nasehat-nasehat di forum dewasa gitu, ya?) 

-------Tulisan ini nggak bermaksud apa-apa selain mengisi waktu luang karena sedang dilanda flu, kangen pacar dan gabut nggak ada kerjaan. Terimakasih... dan sayang.

No comments:

Post a Comment